1/2/13

Pulang


Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Jumlah halaman: 464 halaman
Terbit: Desember 2012 (cetakan pertama)

*Dimas Suryo*
Tanpa mengetahui duduk perkara, Dimas Suryo yang berprofesi sebagai wartawan tiba-tiba saja harus terdampar di tempat yang begitu jauh dari tanah airnya. Mula-mula dia ditugaskan di Havana, lalu Peking, kemudian Paris, Prancis. Sebagai warga Negara yang dicap sebagai eks tapol (tahanan politik), visa miliknya dicabut sehingga Dimas tidak bisa kembali ke tanah airnya, Indonesia.

Rupanya bukan hanya Indonesia saja yang mengalami pergolakan politik, awal tiba di Paris Dimas menyaksikan berbagai demonstrasi. Bedanya, jika di kota tempat menara Eiffel itu berdiri jelas siapa yang digugat dan menggugat. Sementara di Indonesia, tiba-tiba saja orang diciduk, diinterogasi, diasingkan, dibuang. Diantaranya adalah anggota Empat Pilar Tanah Air yang terdiri dari Dimas Suryo dan tiga orang kawannya -Nugroho, Risjaf, Tjai-.
Ketika sedang melihat demonstrasi di Universitas Sorbonne itulah Dimas Suryo bertemu dengan seorang perempuan -Vivienne Deveraux- yang kelak menjadi istrinya dan memberinya seorang  anak perempuan bernama Lintang Utara.  Sebagai lulusan sastra yang hidup di kota tempat dimana para penyair dan seniman berkumpul, agak sulit bagi Dimas Suryo untuk menghasilkan uang. Berulang kali dia harus berganti pekerjaan. Sampai pada akhirnya bersama tiga orang temannya mereka mendirikan restoran masakan Indonesia yang diberi nama Empat Pilar Tanah Air.
Empat Pilar Tanah Air selain menyajikan makanan khas Indonesia juga menjadi tempat bersosialisasi: peluncuran buku, diskusi tentang perkembangan Indonesia, pembacaan sastra, dll. Meski menjadi salah satu restoran yang cukup populer di kalangan warga Prancis, hampir tak ada orang Indonesia (terutama orang pemerintahan) yang mengunjunginya karena restoran itu bisa-bisanya dicap sebagai sarang PKI. Oleh sebab itu, Empat Pilar Tanah Air akhirnya menjadi semacam tempat untuk bernostalgia bagi Dimas Suryo, Nugroho, Risjaf dan Tjai mengenang tanah airnya. Karena selain Risjaf, ketiganya tidak pernah bisa pulang ke Indonesia sebab permohonan visa mereka selalu ditolak, entah apa sebabnya. Meski begitu Dimas Suryo masih memendam keinginan untuk bisa pulang ke Indonesia. Suatu kali dia mengatakan keinginannya itu pada putri tunggalnya, Lintang Utara.

*Lintang Utara*
Lintang yang sudah memasuki tahap akhir dalam studinya di Universitas Sorbonne mulai dipusingkan oleh tugas akhir. Proposal mengenai warga Aljazair di Paris yang sudah dibuatnya ditolak oleh Didier Dupont, pembimbingya karena sudah banyak mahasiswa yang membuat thesis dengan tema tersebut. Dupont meminta topik yang lebih 'cerdas'. Mengetahui Lintang mempunyai orang tua dengan latar belakang berbeda: Indonesia dan Prancis, dia memintanya untuk membuat thesis mengenai “akar” kehidupannya. Lintang lahir dan besar di Paris sehingga dia tidak tahu menahu tentang Indonesia. Dia mengenal Indonesia hanya dari cerita ayahnya, paman-pamannya, juga dari berita di Koran, buku dan televisi. Akhirnya, tantangan dari dosen pembimbingnyalah yang akhirnya menuntunnya menginjakkan kaki di Jakarta. Untuk tugas akhinya, juga untuk menelusuri asal-usul hidupnya.
Lintang akan ke Jakarta untuk merekam pengalaman korban ketidakadilan peristiwa September 1965. Dengan bantuan ayah dan teman-teman ayahnya, Lintang mendapatkan daftar sejumlah nama yang bisa digunakan sebagai narasumber dokumenternya. Lintang juga diberitahu sejumlah nama yang kelak bisa membantu penelitiannya di Jakarta. Selain itu, Lintang pun menjadi perpanjangan tangan, kaki, mata, dan telinga bagi anggota Empat Pilar Tanah Air yang tidak bisa mengunjungi Indonesia.
Di Jakarta, Lintang tinggal di rumah Om Aji, adik ayahnya, yang juga mendapatkan dampak dari gerakan September 1965. Sementara itu, untuk kepentingan penelitiannya Lintang banyak dibantu oleh Segara Alam dan teman-temannya di LSM Satu Bangsa. Selain membantu penelitian, rupanya Segara Alam yang biasa dipanggil Alam menjadi “halilintar” bagi Lintang. Karena Alam-lah Lintang kemudian harus memilih antara dia dan kekasihnya Nara di Prancis yang merupakan payung teduhnya.
Meskipun Lintang sudah akrab dengan demontrasi (ala Prancis), di Jakarta-lah dia menyaksikan demonstrasi yang begitu ganas. Dia menjadi salah satu saksi sejarah Mei 98. Lintang ikut pergi ke kampus Trisakti dimana di sana terjadi penembakan mahasiswa tak bedosa. Lintang juga menyaksikan berbagai penjarahan yang dilakukan oleh gerombolah massa yang entah darimana datang. Pun dia bergabung dengan teman-temannya di LSM Satu Bangsa yang berkumpul di depan gedung dewan perwakilan rakyat menuntut mundur rezim yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Dan presiden akhirnya bersedia turun. Reformasi berhasil!
**
Membaca Pulang karya Leila S. Chudori, saya merasa seperti sedang membaca sebuah buku harian yang menjadi saksi ‘malpraktik’ sejarah Indonesia. Kata demi kata, kalimat demi kalimat saya lahab hingga halaman terakhir. Saat membaca ‘Surat-Surat Berdarah’ tenggorokan saya ikut tercekat membayangkan orang-orang tak bersalah disiksa oleh penguasa keji. Saya pun sampai menangis ketika membaca curahan hati Bimo Nugroho yang merasa rumahnya sebagai neraka semenjak ibunya menikah lagi dengan seorang tentara. Bagi saya yang tak paham sejarah, novel Pulang membuat saya mengerti secuil peristiwa 30 September 1965 dan Mei 1998. Seandainya buku-buku teks sejarah di saat saya sekolah dulu berformat seperti itu, saya mungkin akan tertarik untuk membacanya. Dan bukan menghafalnya :p. Novel Pulang benar-benar patut untuk dibaca karena menyajikan kisah keluarga, persahabatan, romansa dan sejarah yang apik.

No comments:

Post a Comment