1/15/13

Orang Ketiga Pertama

Begitu sampai di pelataran Lekker Paimo, Nayla langsung bergegas menuju tempat duduk yang letaknya di pojokan cafe. Itu merupakan tempat faovorit Nay ketika berkunjung ke sana. Dinding kacanya memungkinkan Nay melihat lalu-lalang jalanan. Selain itu, suasana riuh dari dapur terbukanya jadi tak begitu terdengar olehnya.

Tak berapa lama setelah ia mendudukkan pantat dan meletakkan tas di kursi sebelahnya, seorang pelayan menghampiri untuk membawakan menu untuknya. Nay lumayan sering datang ke Lekker Paimo sehingga hampir mengenali semua pelayannya. Bahkan ada yang akrab beberapa. Sementara pelayan yang baru saja menghampirinya baru sekali ini ia lihat. "Mungkin dia orang baru", batin Nayla.

Selesai menuliskan pesanannya, leker tuna jagung manis, leker sosis keju, dan ice tea blueberry, Nay menyerahkan kembali  kertas pesanannya kepada pelayan yang dengan setia berdiri di samping mejanya.

Sebenarnya tujuan Nayla datang ke Lekker Paimo bukanlah untuk menikmati leker kesukaannya, melainkan dia berjanji untuk bertemu seseorang di sana. Seseorang yang langsung menuduhnya begitu menyapanya di whatsapp. Diaz. Dialah orang yang sedang ditunggu Nayla. Sembari menunggu Diaz, Nay membaca kembali chat-nya di whatsapp dengan semalam.

Diaz: Nay...
Nay_la: Knp yaz?
Diaz: Kamu nyembunyiin sesuatu kan?
Nay_la: Gak. Nyembunyiin apa?
Diaz: Gak usah boong Nay, aku tau kamu banget. Mending kamu ngaku deh!
Nay_la: Sumpah yaz, aku gak boong. Emang aku gak nyembunyiin apa2. Kamu kok seenaknya nuduh2 gt sih? >,<
Diaz: Aku gak asal nuduh, tp kan kemarin cuma kamu yg main ke kosku. Dan itu masih ada. Setelah kamu pulang tiba2 gak ada.
Nay_la: Yaampun yaz, beneran deh. Aku gak ngambil apa2 kecuali majalah yg aku titip beli sama kamu itu.
Diaz: Nah, buku itu ada di bawah majalah kamu. Kebawa kamu gak?
Nay_la: Owalah... Bentar ya coba aku cek dulu. Iya ada, hihihi. Maap ya, gak sengaja :D
Diaz: Syukurlah, buku langka soalnya Nay. Kalo gitu besok aku ambil ya.
Nay_la: okay boz! ^^

Maka, di pojokan Lekker Paimo Nayla duduk menanti Diaz. Tak lupa ia membawa Orang Ketiga Pertama  yang tak sengaja terbawa olehnya.

Dear missciccone

Halo kakak. Tolong jangan marah ya bila ada orang yang tak kaukenal tiba-tiba mengirimimu surat dan memanggilmu kakak. Jujur saja, sebenarnya aku tidak tahu bagaimana mengucapkan "Cicco" dengan benar, maka kupikir akan lebih "aman" bila memanggilmu kakak, terutama karena lebih "senior", kekeke. Dulu, kupikir kak Cicco adalah penggemar jeJejepangan makanya menggunakan akun "Cicco   コ". Namun rupanya Ciccone adalah nama tengah Madonna, salah seorang penyanyi kesukaan kakak. Jadi, tolong dimaafkan ya kekeliruan ini.

Alasanku menulis surat ini apalagi kalau bukan aturan dari #30HariMenulisSuratCinta yang mengharuskan menulis untuk "selebtwit" padi hari kedua ini. Aku bingung akan menulis surat untuk siapa sampai akhirnya teringat "Siwon". Maka, atas nama Siwon, Zayn Malik dan Adam Levine, aku putuskan menulis surat untuk @missciccone ^^.

Aku mulai follow @missciccone pada saat #CicconeAwards2011 kalau tidak salah. Waktu itu, timeline ramai dengan RT-an #CicconeAwards. Aku sampai curiga kakak punya sebelas tangan karena #CicconeAwards terus membanjiri timeline tiada henti selama beberapa jam. Sejak saat itu, aku menjadi pengikut setia @missciccone

Aku merasa twit-twit @missciccone itu mewakili pemikiran banyak orang, termasuk aku. Terus terang, berani, dan apa adanya. Terkadang, malah baru tersadar setelah membaca twit kakak. Sehingga komentar "iya, ya" sering terucap setelah membaca. Dan menurutku, @missciccone layak menjadi menteri pemberdayaan perempuan karena twit-twit "motivasi"nya, haha.

Oya, ternyata kakak juga menyukai Siwon dan G-Dragon ya? Daebak^^. Aku pun iri saat mengetahui kak Cicco melihat Super Show dan Alive Tour. Begitulah. Sekian surat penggemar kali. Maaf ya, atas kelakuan random ini. Keep calm and love Zayn Malik <3 font="font">

Salam kenal,
Fitriana

1/14/13

Pukul Dua Dini Hari


Wajah Nayla berseri-seri begitu satu contact baru memenuhi memori hp-nya. Nay tak menyangka, Morgan yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui layar kaca, bisa ia genggam tangannya. Nay masih bisa mengingat dengan jelas ketika Morgan berkata, "hai" sambil tersenyum yang menampakkan deretan giginya yang putih.

Nay masih saja tersenyum setiap kali mengingat kejadian di supermarket. Setibanya di depan kasir, Nay balik badan kemudian berlari menuju orang yang menepuk pundaknya. Ia baru saja tersadar. Siapa juga yang menyangka artis papan atas seperti Morgan berkeliaran di supermarket yang jauh dari Jakarta. Koreksi, Morgan berkeliaran di supermarket membawa nampan berisi yagurt lalu menawarkan pada Nayla. Alamak!

Langkah Nay berhenti saat jaraknya dengan Morgan hanya satu meter di depan mata. Di tempat semula, Morgan masih berdiri dan dikerubungi beberapa orang. Ada yang mencicip yagurtnya, ada pula yang minta foto bersama. Sialan! Sementara itu, dari tempatnya berdiri Nay bisa merasakan kehangatan seorang superstar. Morgan tampak ramah melayani orang-orang itu. Sesaat Nay ragu, apakah ia akan menemui Morgan atau kembali saja ke kasir untuk membayar belanjanya lalu pulang. Lalu Nay berfikir, mungkin saja ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk bertemu idolanya. Maka, setelah Morgan kembali sendiri, Nay berjalan mendekat.

Tiba di belakang Morgan, Nay berhenti. Ia berusaha untuk memanggil Morgan tapi tak ada suara yang keluar. Mulutnya tercekat, tangannya gemetaran. Malah Morgan yang berbalik dan kini berdiri menatapnya.

"Hai", dengan senyuman ala iklan pasta gigi Morgan menyapa Nayla.

Dengan kikuk Nay membalas sapaannya, "Hh-hai" sambil berusaha mengeluarkan senyuman terbaiknya.

Begitulah sepuluh menit yang menjadi momen terbaik hidup Nayla. Seusai perkenalan yang canggung itu, Nay bisa meminta foto dengan Morgan. Lebih dari itu, Nay mendapatkan nomor hp Morgan. Wohooo...


*yuunomisowelllll* 

Hp Nayla berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk untuknya. Sambil mengusap mata Nay mengambil hp yang ia letakkan di bawah bantalnya. Sebelum membaca pesan ia melihat jam pada homescreen terlebih dahulu.

Pukul dua dini hari. Nay beringsut kembali setelah melihat laptopnya masih menyala dengan window ms. office yang masih terbuka, serta kertas-kertas revisi yang berserakan di lantai kamarnya. Semangatnya menghilang saat teringat siapa yang harus ditemuinya nanti. Dan selalu saja Nay bermimpi aneh sebelum bertemu dengan dosen pembimbingnya.

A Letter to Keenan


14 Januari 2013

Dear Keenan,
Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu tadi malam? Tidak ada nyamuk yang mengganggumu bukan? Pengusir nyamuk elektrik yang sudah kubeli itu seharusnya berfungsi sebagaimana mestinya sehingga kamu tak harus mendapati bintik-bintik merah di tubuhmu saat kau membuka mata di pagi hari.

Keenan sayang, apakah kau merasa senang selama delapan bulan terakhir? Apakah lebih menyenangkan di sini di mana kau bisa memeluk boneka jerapahmu ataukah lebih menyenangkan di dalam kandungan ibumu tempat kau bersemayam lebih dari sembilan bulan? Kelak, saat kau sudah bisa berbicara, kau harus meceritakannya padaku. 

Keenan sayang, jangan sedih ya bila setiap hari harus bermain dengan Uti dan Kakung karena ayah dan ibumu bekerja. Kau tak perlu risau karena kasih sayang mereka pun tak akan pernah bisa kau hitung bahkan dengan alat super canggih di masa depan. Saat petang tiba, ayah, ibu, om dan tante akan pulang ke rumah lalu menghujanimu dengan peluk dan kecupan.

Keenan sayang, jangan menolak ya jika kau harus minum susu dalam botol. Mengertilah, sebenarnya ibumu tak bermaksud tak ingin menyusuimu. Juga jangan menolak saat Uti menyuapimu alpukat, pisang dan lain-lainnya, agar kau tumbuh sehat dan cerdas sehingga bisa menjadi anak lelaki kebanggaan keluarga.

Keenan sayang, teruskan saja bermainmu. Jangan takut bermain dengan tanah dan hujan karena mereka akan menjadikanmu lebih kuat. 


Kecup dan peluk,

Tante 

1/13/13

Kenalan Yuk!


Sambil mendekap paper keeper berwarna pink, Nayla berjalan dengan gontai keluar dari ruangan dosen. Sudah bukan cerita baru lagi bahwa selama sembilan bulan terakhir, pemandangan setelah Nay selesai bimbingan dengan dosennya selalu sama. Wajahnya ditekuk dengan tenaga yang hampir tidak ada, seolah-olah Nay baru saja pulang dari peperangan.

Di luar ruangan, Nay melihat wajah-wajah asing, tak ada satu orang pun yang dikenalnya. Tidak ada temannya di sana. Karena memang, di angkatan Nay hanya tinggal segelintir orang yang belum lulus. Nay salah satunya. Nay dan teman-temannya hanya pergi jika harus bimbingan atau ke perpus. Oleh karena itu, dia tidak pernah berlama-lama berada di kampus. Tidak seperti saat awal-awal kuliah, di mana dia selalu berangkat pagi dan pulang saat hari sudah larut.

Dari kampus Nay tak segera pulang ke kosnya. Dia memilih untuk mampir ke sebuah mall di mana supermarket tempat dia biasa membeli segala macam kebutuhannya berada. Nay sebenarnya tidak menyukai mall. Nay hanya pergi ke sana jika ingin berbelanja, beli buku, nonton, dan makan. Lah, bukannya tujuan pergi ke mall memang untuk itu? Ya, memang. Pokoknya jika tidak ada yang harus dilakukannya, dia tidak suka berkeliaran di mall. Dia lebih senang mengurung diri dalam kamar dengan buku-buku dan serial Koreanya.

Dengan menenteng keranjang belanja, Nay segera menyusuri rak demi rak. Dia tidak membawa daftar belanjaan karena memang datang tanpa rencana. Nay hanya melihat-lihat jika sekiranya ada yang menarik hatinya. Hampir tiga puluh menit berlalu tanpa ada satu barang pun yang mengisi keranjangnya.

Saat Nay berdiri di depan rak produk milk and dairy, kesukaannya, ada seseorang yang mendekat kemudian berdiri di sampingnya. Nay tidak beranjak dari tempatnya berdiri dan tetap menatap deretan youghurt yang hendak dicomotnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, lalu menawarkan youghurt yang dibawanya dengan nampan.

"Silakan kakak, dicoba, varian baru dari yagurt, beli tiga gratis satu, kakak", seseorang itu berkata sembari memajukan nampan yang berisi yagurt dalam wadah kecil-kecil.

Nay menoleh, mengambil satu yagurt yang dibawa oleh seseorang itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih, lalu berlalu menuju kasir. Saat berjalan menuju kasir Nay baru merasa bahwa dia familiar dengan orang yang menawarinya yagurt itu. Rasa-rasanya Nay pernah melihat orang itu tapi lupa kapan dan di mana. Saat tiba di depan kasir Nay ingat lalu berlari ke tempatnya semula sambil teriak, "Morgaaaaan".

p.s: yakali, setelah iklan sosis, Morgan jadi brand ambas-nya yoghurt :p