7/9/13

Wishful Wednesday [1]

Na Willa
Saat menyusuri rak-rak Gramedia Slamet Riyadi beberapa bulan lalu, tanpa sengaja mata saya menangkap buku berwarna coklat dengan cover gambar seorang anak perempuan kecil naik sepeda. Lalu di bawah judul tercetak nama pengarangnya: Reda Gaudiamo. Oh, sebetulnya saya tidak pernah membaca karya-karya mbak Reda. Saya pun baru mengetahui namanya saat mengikuti Wordisme di mana mbak Reda menjadi salah satu pembicaranya. Namun, buku itu menarik perhatian saya.

Melihat bukunya tidak terlapisi plastik, langsung saja saya baca-baca (kalo masih terlapisi pun akan saya sobek...hahaha). Daaan, saya suka!! Saya suka cetoleh-celoteh yang dilontarkan Na Willa, dan segala keingintahuannya. Ditambah lagi ilustrasi-ilustrasi yang diselipkan dalam buku ini. Semakin suka!!

Sayangnya, keinginan tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan. Dalam masa-masa kantong kering tersebut tujuan saya ke toko buku memang hanya untuk menghilangkan dahaga menyentuh buku-buku baru. Alhasil, Na Willa pun hanya saya sentuh, tidak saya bawa pulang. Nah, makanya dalam waktu dekat ini saya ingin segera memiliki dan membaca keseluruhan isi bukunya. Sayangnya lagi, setelah beberapa kali mengunjungi Gramedia di tempat bermukim saya yang baru, Na willa tidak saya temukan. Mungkin online-shopping adalah cara termudah untuk memilikinya.

This is my wish, what's yours?

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (ada di postingan Blog To Share) . Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)


3/20/13

Warna Air


Judul Asli: The Story of Life on The Golden Fields Vol. 1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2010
Halaman: 320
Genre: Novel Grafis Dewasa

Warna Tanah merupakan buku pertama dari trilogi karya Kim Dong Hwa yang menceritakan tentang kehidupan dua perempuan, Ehwa dan Ibunya. Ehwa, gadis berusia tujuh tahun yang mulai bertumbuh badan dan pikirannya. Sedangkan Ibu Ehwa merupakan seorang janda yang membesarkan Ehwa seorang diri dengan membuka kedai minum. Akibatnya, banyak cibiran yang ditujukan padanya terkait statusnya tersebut.

Setiap musim hujan, selalu ada pertanyaan yang ditanyakan Ehwa pada ibunya. Terutama terkait tentang keperempuanannya. Pertama-tama ia bertanya mengapa dia tidak mempunyai burung seperti dua teman laki-lakinya. Lalu ia mempertanyakan tentang bagaimana datangnya bayi. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang juga sebagai penanda kematangan usianya pada musim yang berbeda. Ibu Ehwa menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan bahasa yang dapat dipahami sesuai umurnya. Tak lupa ia berpesan agar Ehwa menjaga apa yang dimilikinya sebagai perempuan.

Novel grafis karya kim Dong Hwa ini begitu manis. Gambar dan ceritanya saling mewakili kehidupan dua perempuan Korea pada akhir abad 19. Kultur kehidupan masyarakat di sana dapat diketahui melalui dialog-dialog yang dituliskan serta dari gambar yang diilustrasikan dengan bagus. Meskipun beberapa dialog dan gambar agak vulgar, tapi sebenarnya tidak bermaksud demikian. Hal itu dimaksudkan untuk menggambarkan latar lebih detil. Dengan tambahan simbol-simbol bunga dan hujan yang sering muncul, membuat manhwa ini semakin romantis. Saya sebagai perempuan terkagum-kagum dengan penuturan Kim tentang makna berbagai macam bunga. Sebelumnya, tidak pernah terpikirkan oleh saya mengapa bunga ini hanya mekar pada malam hari sementara bunga itu bisa mekar sepanjang tahun. 

Siap membaca seri kedua-nya, Warna Air :) 

2/18/13

Festival Jenang Solo

sumber gambar
Bulan Februari memang bulan yang istimewa karena salah satu tanggalnya diperingati sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia. Selain itu, banyak orang-orang kece yang lahir di bulan ini. Diantaranya saya *uhuk* dan Kota Solo. Panggal 17 Februari kemarin, Kota Solo genap berusia 286 tahun. Sudah tua ya? hihihi

Untuk memperingati hari lahirnya, banyak event yang diselenggarakan, diantaranya Festival Jenang Solo. Festival tersebut mulai diselenggaran tahun lalu sehingga tahun ini menjadi tahun kedua penyelenggaraannya. Berbagai macam jenang (bubur) disediakan untuk dibagikan kepada ribuan pengunjung secara gratis. Mulai dari jenang merah dan putih, jenang sumsum, jenang pati, sampai jenang cio giu (semoga gak salah menulisnya). 

Setelah menjemput Weni, yang tentu saja belum mandi :p, kami berdua berangkat menuju Ngarsopuro, tempat digelarnya festival jenang. Setibanya di sana, sudah ada banyak orang yang memadati jalan di sepanjang Ngarsopuro. Para Putri Jenang pun sudah berbaris, menunggu Pak Walikota Rudyatmo membuka acara. Ibu-ibu PKK juga sudah siap dengan 'dagangan' jenangnya. Sembari menunggu, saya dan Weni  berjalan menyusuri satu stand ke stand lainnya yang ada di sana untuk melihat-lihat jenang apa saja yang hendak kami lahap. Karena jenang yang dibagikan banyak, maka setidaknya kami harus mendapatkan lebih dari satu macam :p *dasar gembul*

Selesai menyusuri stand demi stand, acara belum juga dimulai. Kabarnya, Pak Wali kena macet sehingga belum tiba di tempat sesuai jadwal. Saat sedang berlindung dari teriknya sinar matahari, entah bagaimana mulanya, stand di dekat saya sudah mulai membagikan jenangnya. Orang-orang mulai berkerumun. Merasa kecolongan start, saya dan Weni kemudian mencari stand yang kira-kira masih sedikit antriannya. Inilah jenang pertama yang kami dapatkan adalah:
Jenang mutiara dan tidak tau namanya :|
Usai melahap jenang tersebut, kami menuju ke stand jenang sagu. Namun ternyata, antriannya tidak manusiawi. Saya menyerah kemudian melipir ke stand di sampingnya yang antriannya lebih tertib. Kami mendapatkan jenang sumsum. Sendok yang kami gunakan untuk makan jenang pertama sengaja tidak kami buang untuk mempermudah dan mempercepat makan jenang-jenang yang lain :D. Dua porsi jenang belum membuat perut kami kenyang, sehingga kami masih memburu jenang yang lain. Jenang lemu menjadi perburuan kami selanjutnya.Sayang, saat kami tiba di stand jenangnya sudah habis. Padahal sepertinya enak karena ada pecel dan sambel tumpangnya. Slurrp. Jenang pati yang kami makan sepincuk berdua menjadi perburuan terakhir kami.

Semakin siang, cuaca semakin panas dan jenang-jenang mulai habis dibagikan. Kami berdua pun memutuskan untuk pulang. Selamat Ulang Tahun yang ke 268 Kota Solo. Semoga semakin berseri. Request untuk tahun depan dong, selain festival jenang boleh loh diadakan festival sego liwet, gudeg ceker, sate kere, atau timlo agar semakin meriah :D

2/17/13

RECTOVERSO: Cinta Yang Tak Terucap

Kamis kemarin, 14 Februari, Rectoverso the movie tayang perdana di bioskop. Berhubung gak ada kerjaan maka saya nonton pada hari itu juga. Takutnya kalo besok-besok mendadak banyak kerjaan malah akhirnya gak bisa nonton macam Perahu Kertas 2 dulu. Setelah memastikan Rectoverso sudah main di bioskop Solo, saya memutuskan untuk menonton jam pertama.

Sumber: cinema 21
Berbeda dengan film Perahu Kertas, untuk film Rectoverso ini saya nggak mengikuti perkembangan pembuatan filmnya. Yang saya tahu hanya bahwa Rectoverso akan difilmkan oleh lima sutradara lalu tayang tahun 2013. Udah, itu aja. Cast-nya saja baru saya ketahui setelah melihat trailernya beberapa minggu sebelum filmnya tayang di bioskop. Saya hanya ingin melihat bagaimana buku (kumpulan cerpen) karya Dewi Lestari itu dalam bentuk film. Maka saya simpan imajinasi yang sudah saya dapatkan ketika membaca bukunya sampai saat duduk di kursi F no 10 kemudian muncul adegan Abang yang sedang menghitung sabun. Dengan tetap menatap layar bisokop, saya munculkan adegan-adegan dalam buku yang sudah terekam otak saya.

Selama 110 menit, saya merasa sedang menonton sekaligus membaca Rectoverso. Quote-quote favorit saya dituangkan dalam film melalui dialog dan adegan-adegan pemainnya.
 "Jika mendengar saja cukup, kenapa harus dipaksakan bicara?" ~ Firasat
"Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih" ~ Curhat Sahabat
"Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki" ~ Hanya Isyarat
Dan akhirnya yang membuat hati saya (karena mata saya tidak berair) menangis adalah surat dari Abang untuk Leia: 
"Seratus sempurna. Kamu satu. Sempurna"
Sunggung ending yang sempurna. Selama berpuluh-puluh menit saya mampu menahan air mata agar tidak keluar, sampai akhirnya surat itu dibaca. Rectoverso benar-benar film adaptasi yang bagus. Jika biasanya saya membandingkan film dengan bukunya (yang sudah saya baca), untuk Rectoverso tidak. Sempurna, kata Andra and the Backbone. Akting pemainnya bagus (Fauzi Baadila favorit saya :D), dialognya bagus (seperti baca buku), soundtracknya, sinematografi, semuanya bagus.
sumber: thejakartapost. Asmirandah cantik banget!
Sangat recommended untuk ditonton oleh semua orang (dewasa) karena ratingnya adalah film dewasa. Berhubung Rectoverso tayang perdana pada tanggal 14 Februari, maka seandainya pada tanggal itu belum punya pasangan tak perlu khawatir. Tanggal 14 Februari bukan hari valentine melainkan hari rectoverso (istilah @ikanatassa) :p.

Oya, sewaktu nonton Rectoverso saya bukan satu-satunya orang yang menonton sendirian lho karena saya bertemu beberapa orang yang juga nonton sendiri. Yeay! 

1/20/13

Cintaku Mentok di Kamu

Ada satu istilah yang mempunyai makna sama namun diucapkan berbeda, tergantung status pengucapnya. Sabtu malam atau malam Minggu? terserah. Para pecinta yang sedang dimabuk asmara biasanya lebih menyukai istilah malam Minggu. Kebalikannya, Sabtu malam lebih disukai oleh para fakir asmara (meminjam istilah Raditya Dika) yang menghabiskan malam Minggunya, eh Sabtu malamnya di rumah memandangi timeline twitter berharap ada yang bernasib sama dengan mereka. :)

Nayla adalah salah satu jamaah fakir asmara tersebut. Sabtu malam-Sabtu malamnya dihabiskan untuk melahab berbagai macam buku, video dan variety show. Ia tidak suka bepergian pada Sabtu malam karena jalanan pasti penuh dengan kendaraan yang akan mengantar tuan-tuan dan nyonya-nyonya mereka ke mall, resto, cafe, bioskop, rumah pacar, rumah tunangan, rumah selingkuhan, dan lain-lain. Bahkan, untuk kebutuhan perutnya alias makan, dibelinya sebelum petang mengingat tempat makan pasti penuh saat Sabtu malam tiba. Dan tempat makan-tempat makan tersebut pasti dipenuhi dengan orang berpasang-pasangan. 

Saat malam tiba, Nayla yang sudah mandi dan wangi mengeluarkan laptopnya. Dibukanya folder yang diberi nama "My sweetheart". Klik ... klik ... klik ... File yang dikehendakinya sudah terbuka. Sambil memandangi gambar yang sedang ditampilkan di layar laptopnya, Nayla bergumam,

"Pantesan aku jombo, soalnya cintaku mentok di kamu, Siwon oppa!"